Minggu, 01 April 2012

HUBUNGAN KEJADIAN PRE-EKLAMPSIA BERAT DENGAN TINDAKAN SECTIO CAESAREA

ABSTRAK


       Resiko persalinan pada ibu dengan Pre eklampsi berat (PEB) sangatlah tinggi, angka kejadianya menurut WHO, 0,51%-38,4%, maka perlu dilakukan upaya yang optimal untuk menurunkan kejadian tersebut yaitu mengakhiri kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea (SC) jika dalam 24 jam tidak dapat diselesaikan dengan persalinan pervaginam. Di RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu kejadian PEB meningkat setiap tahunnya. Pada 2008-2009 jumlah kasus PEB mengalami peningkatan sebesar 22,3%. Pada 2010, PEB merupakan urutan ke dua (10,7%)  dari sepuluh penyakit terbanyak  yang ada di ruang mawar RSUD M.Yunus Bengkulu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kejadian Pre Eklampsi berat dengan Tindakan SC di ruang mawar RSUD Dr. M. Yuus Bengkulu tahun 2010.

       Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin pada tahun 2010 berjumlah 1660 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 323 orang dengan teknik pengambilan sampel systematic random sampling. Data yang digunakan adalah data skunder tentang ibu yang mengalami PEB dan tindakan SC yang diperoleh dari register pasien di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus dari bulan Januari – Desember 2010 dengan menggunakan check list dan dianalisis secara univariat dan bivariat (program komputerisasi).

       Hasil penelitian ini didapatkan dari 59 ibu yang Pre eklampsia berat sebagian besar (64,4%) persalinan dengan tindakan Sectio Caesarea dengan P=0,000 yang artinya ada hubungan signifikan antara kejadian PEB dengan tindakan SC. nilai OR=4,16.

       Diperlukan adanya upaya preventif menegakkan kemungkinan preeklampsia secara dini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas Ante Natal Care serta menghindari terjadinya eklampsia melalui pengobatan preeklampsia dengan intensif.


Kata Kunci :  Pre Eklampsia Berat, Sectio Caesarea



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Salah satu bentuk dari upaya pembangunan di bidang kesehatan adalah peningkatan kesehatan ibu dengan program yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI). Dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan, AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus (Depkes RI, 2007).
Di negara berkembang, AKI sebesar 585/100.000 kelahiran hidup. Di Asia AKI terjadi 323/100.000 kelahiran hidup setiap tahunnya. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI di Indonesia pada tahun 2007 adalah 228/100.000 kelahiran hidup. Penyebab AKI diantaranya Pendarahan (28%), eklampsia (24%), infeksi (11%), komplikasi masa puerperium (8%), abortus (5%), partus lama (5%), emboli obstetri (3%), dan lain-lain (11%) (Depkes RI, 2006).
Dari data profil kesehatan kabupaten/kota provinsi Bengkulu tahun 2009, jumlah kematian ibu adalah 42 orang, ibu hamil 4 (9,5%), ibu bersalin 35 (83,3%), ibu nifas 13 (30,9%). AKI di provinsi Bengkulu pada tahun 2009, 114,4/100.000 kelahiran hidup dan terus mengalami penurunan selama 3 tahun terakhir, pada tahun 2008, 119,6/100.000 kelahiran hidup, tahun 2007 157,49/100.000 kelahiran hidup  (Dinkes Bengkulu, 2010).
 Strategi penurunan AKI di Indonesia sekarang ditekankan pada upaya pendekatan pelayanan kebidanan berkualitas kepada masyarakat, terutama pertolongan persalinan dan penanganan kegawat daruratan obstetri dan neonatal. Salah satunya adalah dengan operasi Sectio Caesarea (SC). Saat ini prosedur operasi Sectio Caesarea merupakan salah satu alternatif yang sering dilakukan di bidang kedokteran dalam proses persalinan, terutama bila terdapat komplikasi, misalnya cephalo pelvic disproportion (CPD), ibu dengan penyakit Pre-eklampsia/Eklampsia, kelainan letak janin, fetal destress, dan masih banyak komplikasi lain yang menyebabkan tindakan operasi Sectio Caesarea ini harus dilakukan dalam menyelamatkan nyawa ibu dan janin yang dikandungnya (Gondo, 2006).
Menurut WHO, tindakan persalinan Sectio Caesarea sekitar 10-15% dari semua proses persalinan di negara berkembang. Sejak tahun 1986 di Amerika, satu dari empat persalinan diakhiri dengan Sectio Caesarea. Di Inggris angka Sectio Caesarea di Rumah Sakit Pendidikan relatif stabil yaitu antara 11-12 %, di Italia pada tahun 1980 sebesar 3,2% -14,5%, pada tahun 1987 meningkat menjadi 17,5%. Dari tahun 1965 sampai 1988, angka persalinan Sectio Caesarea di Amerika Serikat meningkat progresif dari hanya 4,5% menjadi 25%. Sebagian besar peningkatan ini terjadi sekitar tahun 1970-an dan tahun 1980-an di seluruh negara barat. Pada tahun 2002 mencapai 26,1%, angka tertinggi yang pernah tercatat di Amerika Serikat (Gondo, 2006).
Angka kejadian Sectio Caesarea di Indonesia menurut data survey nasional pada tahun 2007 adalah 921.000 dari 4.039.000 persalinan (22,8%) dari seluruh persalinan. Angka persalinan dengan Sectio Caesarea di 12 Rumah Sakit Pendidikan berkisar antara 2,1% - 11,8%. Di RS Sanglah Denpasar insiden Sectio Caesarea selama sepuluh tahun (1984-1994) 8,06% - 20,23%, rata-rata per tahun 13,6%, sedangkan tahun 1994-1996 angka kejadian Sectio Caesarea 17,99%  (Gondo, 2006).
Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan, di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, kejadian Sectio Caesarea pada tahun 2008 berjumlah 565 (32,4%) dari 1742 persalinan, pada tahun 2009 berjumlah 540 (32,6%) dari 1652 persalinan dan pada tahun 2010 berjumlah 621 (37,4%) dari 1660 persalinan.  Dilihat dari jumlahnya, persalinan dengan tindakan kejadian Sectio Caesarea pada tahun 2008 - 2009 mengalami penurunan sebanyak 4,6%, sedangkan pada tahun 2009 - 2010 mengalami peningkatan sebanyak 13%.
Tindakan Sectio Caesarea saat ini semakin baik dengan adanya antibiotik, transfusi darah yang memadai, teknik operasi yang lebih sempurna dan anastesi yang lebih baik. Walau demikian, morbiditas maternal setelah menjalani tindakan Sectio Caesarea masih 4-6 kali lebih tinggi daripada persalinan pervaginam, karena ada peningkatan resiko yang berhubungan dengan proses persalinan sampai proses perawatan setelah pembedahan. Dari hasil penelitian Bensons dan Pernolls (2005), angka kematian pada operasi Sectio Caesarea adalah 40 – 80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan normal. Untuk kasus infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan persalinan pervagina (majalah inspire kids, 2009).
Setiap tindakan operasi Sectio Caesarea mempunyai tingkat kesulitan berbeda-beda, komplikasi lain yang dapat terjadi sesaat setelah operasi Sectio Caesarea adalah infeksi yang disebut sebagai morbiditas pascaoperasi disebabkan oleh infeksi pada luka bekas insisi (infeksi pada rahim/endometritis, alat-alat berkemih, usus dan luka operasi) yang terjadi pada saat proses penyembuhan luka pasca operasi (majalah inspire kids, 2009).
Salah satu indikasi dilakukan tindakan Sectio Caesarea adalah Preekalmpsia berat. Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri, sebab terjadinya masih belum jelas. Syndrome preeklampsia dengan hipertensi, oedema dan proteinuria sering tidak diperhatikan oleh wanita bersangkutan sehingga tanpa disadari dalam waktu yang singkat, jika tidak dilakukan tindakan yang tepat untuk mencegah hal tersebut akan muncul preeklampsia berat bahkan akan menjadi eklampsia  (Cunningham, 2005).
Resiko persalinan pada ibu dengan Preeklampsia berat sangatlah tinggi karena dapat mengancam keselamatan ibu dan janin, bahkan dapat menjadi eklampsia, maka perlu dilakukan upaya yang optimal untuk menurunkan kejadian tersebut yaitu mengakhiri kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea jika dalam 24 jam tidak dapat diselesaikan dengan persalinan pervaginam (Saifudin AB, 2002).
Menurut WHO, angka kejadian Preeklampsia sekitar 0,51% - 38,4%. Angka kejadian PEB di Indonesia cenderung meningkat yaitu 1,0% - 1,5% pada  sekitar 1970-1980 meningkat menjadi 4,1% - 14,3% pada sekitar 1990–2000 (Sofoewan, 2003). Di RSU Tarakan, Dari 1431 persalinan selama periode 1 Januari - 31 Desember 2000 terdapat 74 kasus preeklampsia - eklampsia (5,1%).
       Berdasarkan hasil survey pada 28 Februari 2011 di RSUD M. Yunus Bengkulu, didapatkan kejadian Preeklampsia berat pada tahun 2008, berjumlah 184 (10,6%) dari 1742 persalinan. Pada tahun 2009, berjumlah 237 (14,3%) dari 1652 persalinan, pada tahun 2010 berjumlah 178 (10,7%) dari 1660 persalinan. Dilihat dari jumlahnya, pada tahun 2008 - 2009 jumlah kasus Preeklampsia berat mengalami peningkatan sebesar 22,3%, sedangkan pada tahun 2009 – 2010 jumlah kasus PEB mengalami penurunan sebesar  33,1%.
Meskipun mengalami penurunan, angka kejadian Preeklampsia berat setiap tahunnya masih tinggi, pada tahun 2010 merupakan urutan ke dua dari sepuluh penyakit terbanyak  yang ada di ruang mawar RSUD M.Yunus Bengkulu. Didapatkan juga dari register pada tahun 2009, dari 540 kasus Sectio Caesarea, Preeklampsia berat merupakan urutan ketiga yang menjadi penyebab dilakukannya tindakan Sectio Caesarea (8,8%).
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2010.

B.       Rumusan Masalah
       Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah meningkatnya jumlah tindakan Sectio Caesarea setiap tahunnya di ruang Mawar RSUD M. Yunus Bengkulu dengan penyakit preeklampsia berat yang menjadi salah satu penyebab terbanyak tindakan tersebut. Maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : “Apakah ada hubungan kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2010”.
C.      Tujuan Penelitian
1.         Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan kejadian Pre Eklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2010.
2.         Tujuan Khusus
a.    Diketahuinya gambaran kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2010
b.    Diketahuinya gambaran tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2010.
c.    Diketahuinya hubungan kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2010.



D.      Manfaat Penelitian
1.      Bagi Akademik
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa Poltekkes Jurusan D III Kebidanan, sebagai calon D III Kebidanan untuk dapat digunakan sebagai informasi tentang tindakan Sectio Caesarea pada kejadian Pre Eklampsi berat  untuk penelitian lebih lanjut bagi mahasiswa dalam pembuatan karya tulis ilmiah (KTI) dan menambah referensi di perpustakaan.
2.      Bagi Rumah Sakit
Diharapkan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur informasi bagi petugas pelayanan kesehatan mengenai gambaran kejadian Pre Eklampsi Berat dengan Tindakan Sectio Caesarea di ruang mawar RSUD Dr. M. Yunus kota Bengkulu untuk memberikan upaya preventif pencegahan resiko kehamilan pada ibu hamil.
3.      Bagi Peneliti Lain
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan penelitian selanjutnya dengan mengembangkan variabel dan metode penelitian yang berbeda.




E.       Keaslian Penelitian
1.    Asti Mariani, telah melakukan penelitian sebelumnya pada tahun 2008 dengan judul “ Faktor-faktor yang berhubungan dengan Tindakan Sectio Caesarea di ruag C1 Kebidanan RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2008” dengan hasil terdapat hubungan antara Pre Eklampsia, Plasenta Previa, KPD dan Makrosomia serta tidak ada hubungan antara gamelli dengan tindakan Sectio Caesarea, variabel KPD merupakan faktor yan paling dominan berhubungan dengan tindakan Sectio Caesarea, yang membedakan dengan penelitian sebelumnya adalah variabel independent dan dependent, metode dan waktu penelitian. Persamaannya adalah tempat penelitian di ruang C1 Kebidanan RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2.    Septi Hendriani, telah melakukan penelitian sebelumnya pada tahun 2007 dengan judul “Hubungan Kejadian Pre Eklampsia dengan Tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD M.Yunus Bengkulu tahun 2007” dengan hasil penelitian yaitu sebagian kecil ibu bersalin melakukan tindakan SC, dengan p < 0,05, ini menunjukkan adanya hubungan antara Preeklampsia dengan tindakan SC. yang membedakan dengan penelitian sebelumnya adalah variabel independent dan waktu penelitian. Persamaannya adalah metode cross sectional dan tempat penelitian di ruang C1 Kebidanan RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Sectio Caesarea
1.    Pengertian
Sectio Caesarea (SC) adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Wiknjosastro, 2006). Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Rustam Mochtar, 1998). SC adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus  yang masih utuh dengan berat janin lebih dari 1.000 gram atau umur kehamilan lebih dari 28 minggu (Manuaba, 1999).
  Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus bagian depan sehingga janin dilahirkan melalui dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat.
       Operasi Sectio Caesarea mempunyai perjalanan sejarah yang panjang dan menarik, sering dihubungkan dengan nama Julius Caesar. Pada saat permulaan operasi Sectio Caesarea, luka operasinya tidak dijahit sehingga mengakibatkan kematian yang disebabkan perdarahan dan infeksi. Hal tersebut merupakan kejadian yang menakutkan karena berisiko kematian.

Maka dari itu, operasi hanya dilakukan jika persalinan normal dapat membahayakan nyawa ibu dan janin. Namun dewasa ini, Sectio Caesarea jauh lebih aman daripada dulu, berkat kemajuan dalam antibiotika, transfusi darah, anastesi dan teknik operasi yang lebih sempurna. Saat ini, ada kecenderungan melakukan operasi ini tanpa dasar indikasi yang cukup kuat. Sectio Caesarea menjadi pertolongan persalinan yang konservatif karena mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang rendah (Manuaba, 2001).
  Walau demikian, morbiditas maternal setelah menjalani tindakan Sectio Caesarea masih 4-6 kali lebih tinggi daripada persalinan pervaginam, karena ada peningkatan resiko yang berhubungan dengan proses persalinan sampai proses perawatan setelah pembedahan. Dari hasil penelitian Bensons dan Pernolls (2005), angka kematian pada operasi Sectio Caesarea adalah 40 – 80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan risiko 25 kali lebih besar dibanding persalinan normal. Untuk kasus infeksi mempunyai angka 80 kali lebih tinggi dibandingkan persalinan pervagina (majalah Inspire Kids, 2009).
2.    Indikasi
Menurut Wiknjosastro (2006) operasi Sectio Caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan Sectio Caesarea, proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal

( Dystasia ), indikasi tersebut antara lain :
a.         Pada ibu
Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidak seimbangan antar ukuran kepala dan panggul ), Disfungsi uterus, Distosia jaringan lunak, Plasenta previa, His lemah / melemah, Rupture uteri mengancam, Primi muda atau tua, Partus dengan komplikasi, Preeklampsi dan eklampsi, Problema plasenta.
b.    Pada anak
Janin besar, Gawat janin, Janin dalam posisi sungsang atau melintang, Fetal distress, Kalainan letak, Hydrocephalus.
3.    Kontra Indikasi Sectio Caesarea
Pada umumnya sectio caesaria tidak dilakukan pada janin mati, syok, anemi berat  sebelum diatasi, kelainan kongenital berat (Wiknjosastro, 2006).
4.    Jenis – Jenis Operasi Sectio Caesarea
1) Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
a. Sectio caesarea transperitonealis
SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri). Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm.
Kelebihan :        Mengeluarkan janin dengan cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal.
Kekurangan :    Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik, Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan, SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim).
b. SC ekstra peritonealis
yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal. Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah, Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik, Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum, Perdarahan tidak begitu banyak, Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil.
Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri  pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak, adanya keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi.


2) Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut (Mochtar, 1998) antara lain sayatan memanjang (longitudinal), sayatan melintang (Transversal), sayatan huruf T (T insicion).
5.  Prognosis Operasi Sectio Caesarea
a.    Pada Ibu
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga – tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000.
b. Pada anak
Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio caesaria banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesaria. Menurut statistik di negara – negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik, kematian  perinatal pasca sectio caesaria berkisar antara 4 hingga 7 % (Wiknjosastro, 2006).



6. Komplikasi Operasi Sectio Caesarea
Menurut Mochtar R (1998), Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :
a.       Infeksi puerperal (Nifas)
Yaitu ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari, sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung, berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik.
b.      Perdarahan disebabkan karena banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka dan perdarahan pada plasenta bed.
c. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi.
d. Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya.
B.       Pre Eklampsia Berat
1. Pengertian
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri, sebab terjadinya masih belum jelas. Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke 20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal (Cunningham, 2005).

Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, oedema, dan proteinuria yang timbul saat kehamilan. Pre eklampsia berat  adalah penyakit yang mempuyai dua atau lebih gejala seperti tekanan sistolik Tekanan darah sistolik ³ 160 mmHg, Tekanan darah diastolik ³ 110 mmHg, proteinuria > 5 g dalam 24 jam, Oliguaria < 400 ml/24 jam, keluhan serebral, nyeri epigasrtium, edema paru-paru atau sianosis (Wiknjosastro, 2007).
2.    Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori dikemukakan para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya, namun belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Teori yang sekarang ini dipakai sebagai penyebab Preeklampsia adalah teori “iskemia plasenta”. Namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang berkaitan  dengan penyakit ini. Rupanya tidak hanya satu faktor yang menyebabkan pre eklampsia dan eklampsia. Diantara faktor-faktor  yang ditemukan sering kali sukar ditentukan mana yang sebab dan mana yang akibat (Winkjosastro, 2007).
Teori yang mengemukakan tentang bagaimana terjadi hipertensi pada kehamilan cukup banyak, antara lain : teori genetik, teori immunologis, teori iskemia regio uteroplasentes, teori kerusakan endotel pembuluh darah, teori radikal bebas, teori trombosit, teori diet.
Sehingga Zweifel (1922) menyebutnya sebagai “disease of theory”, karena tidak dijumpai satu teori yang dapat menerangkan semua gejala yang ditimbulkannya secara kompleks (Manuaba, 2007).
3.      Patofisiologi
Perubahan pokok pada preeklampsia adalah spasmus pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Dengan biopsi ginjal, Althchek dkk. (1968) menemukan spasmus yang hebat pada arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus lumen arteriola demikian kecilnya sehingga hanya dilalui oleh satu sel darah merah. Bila dianggap bahwa spasmus arteriola juga ditemukan di seluruh tubuh, maka mudah dimengerti bahwa tekanan darah yang meningkat tampaknya merupakan usaha mengatasi kenaikan tahanan perifer, agar oksigenisasi jaringan dapat dicukupi, kenaikan berat badan dan oedema disebabkan penimbunan cairan yang berlebihan dalam ruang interstitial belum diketahui sebabnya.
       Telah diketahui bahwa pada preeklampsia dijumpai kadar aldosteron yang rendah dan konsentrasi prolaktin yang tinggi daripada kehamilan normal. Aldosteron penting untuk mempertahankan volume plasma dan mengatur retensi air dan natrium. Pada preeklampsia permeabilitas pembuluh darah terhadap protein meningkat (Wiknjosastro, 2007). Perubahan-perubahan yang terjadi pada preeklampsia :


a.       Perubahan pada plasenta dan uterus
Menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan gangguan fungsi plasenta. Hal ini menyebabkan terjadinya gawat janin sampai kematiannya karena kekurangan oksigenasi. Kenaikan tonus uterus dan kepekaan terhadap perangsangan sering didapatkan pada preeklampsia dan eklampsia.
b.      Perubahan pada ginjal
Disebabkan oleh aliran darah ke dalam ginjal menurun, sehingga menyababkan filtrasi glomerulus mengurang. Penurunan filtrasi glomerulus akibat spasmus arteriolus ginjal menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus menurun, yang menyebabkan retensi garam dan air.
c.       Perubahan pada retina
Pada peeklampsia tampak oedema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada satu atau beberapa arteri jarang terlihat perdarahan atau eksudat. perubahan lainnya pada retina yaitu retinopatia arteriosklertika, ablasio retina, skotoma, diplopia dan ambliopia.
d.      Perubahan pada paru-paru
Oedema paru-paru merupakan sebab utama kematian preeklampsia dan eklampsia. Komplikasi ini disebabkan oleh dekompensasio kordis kiri.

e.       Perubahan pada otak
Resistensi pembuluh darah dalam otak pada hiertensi dalam kehamilan lebih tinggi daripada eklampsia. Walaupun demikian, aliran darah ke otak dan pemakaian oksigen oleh otak hanya menurun pada eklampsia.
f.       Perubahan pada metabolisme air dan elektrolit
       Hemokonsentrasi yang menyertai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui sebabnya. Terjadi pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Kejadian ini diikuti oleh kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum, sering bertambahnya oedema menyebabkan volume darah mengurang dengan akibat hipoksia. Dengan perbaikan keadaan, hemokonsentrasi berkurang, sehingga turunnya hematokrit dapat dipakai sebagai ukuran tentang perbaikan keadaan penyakit dan tentan berhasilnya pengobatan.
4.    Gejala
a.    Gejala Preeklampsia berat
Biasanya tanda-tanda Preeklampsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada Preeklampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. Pada Preeklampsia berat, Gejala-gejalanya adalah tekanan darah sistolik ³ 160 mmHg, tekanan darah diastolik ³ 110 mmHg, peningkatan kadar enzim hati/ ikterus, trombosit < 100.000/mm³, oliguaria < 400 ml/24 jam, proteunaria > 3 g/liter, nyeri epigastrium, skotoma dan gangguan virus lain atau nyeri frontal yang berat, perdarahan retina, oedema pulmonum, koma (Winkjosastro,2007).
b.    Komplikasi  Preeklampsia berat
Komplikasi - komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Komplikasi berikut ini biasanya terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia : 1) Solusio plasenta, komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia. 2) Hipofibrinogenemia, pada Preeklampsia berat. 3) Hemolisis, penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus. Belum di ketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah.
      4) Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut. 5) Perdarahan otak, komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia. 6) Kelainan mata, kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlansung sampai seminggu. 7) Oedema paru-paru. 8) Nekrosis hati, nekrosis periportal hati pada Preeklampsi – eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. 9) Sindrom HELLP yaitu  haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet. 10) Kelainan ginjal. 11) Komplikasi lain, lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang-kejang pneumonia aspirasi.  12) Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra – uterin.
5.    Pencegahan Preeklampsia berat
a.         Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring ditempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
b.         Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda  Preeklampsia berat dan mengobatinya segera apabila di temukan.
c.         Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda Preeklampsia berat tidak juga dapat di hilangkan.
d.        Penilaian kondisi janin dalam rahim. Pemantauan tinggi fundus uteri, pemeriksaan gerak janin dalam rahim, denyut jantung janin, pemantauan air ketuban.
          Dalam keadaan yang meragukan, maka merujuk penderita merupakan sikap yang paling tepat dilakukan.




6.    Penanganan Preeklampsia berat
Penanganan preelampsia berat berujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal. Semua kasus preeklampsia berat harus ditangani secara aktif. Penanganan umum preeklampsia berat antara lain :
a.                Jika tekanan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, berikan obat antihipertensi. Tujuannya adalah untuk mempertahankan tekanan diastolik diantara 90-100 mmHg dan mencegah perdarahan serebral. Berikan hidralazin 5 mg IV, pelan-pelan setiap 5 menit sampai tekanan darah turun atau berikan hidralizin 12,5 mg IM setiap 2 jam.
 Jika tidak tersedia, berikan: a. labetolol 10 mg IV, jika tekanan diastolik tetap >110 mmHg, berikan labetolol 20 mg IV, naikkan dosis sampai 40 dan 80 mg jika tekanan diastolik tetap >110 mmHg sesudah 10 menit. b. nifedipin 5 mg sublingual, jika tidak baik setelah 10 menit, beri tambahan 5 mg sublingual. c. metildopa 3 x 250 – 500 mg/hari.
b.         Pasang infus dengan jarum besar (16 gauge atau lebih besar).
c.         Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan. Kateterisasi urine untuk memantau pengelaran urine dan proteinuria.
d.        Jika jumlah urine < 30 ml/jam : a. Hentikan magnesium sulfat (MgSO4) dan berikan cairan IV (NaCl 0,9 % atau RingerLaktat) pada kecepatan 1 liter per 8 jam. b. Pantau kemungkinan edema paru.
e.         Jangan tinggalkan pasien sendirian.
f.          Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin setiap jam.
g.         Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.
h.         Hentikan pemberian cairan IV dan berikan diuretik, misalnya furosemid 40 mg IV, sekali saja jika ada edema paru.
i.           Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside clotting test). Jika ada pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.
Pada penderita yang masuk rumah sakit sudah dengan tanda-tanda preeklampsia berat segera harus diberi sedativa yang kuat untuk mencegah timbulnya kejang-kejang. Apabila sesudah 12-24 jam bahaya akut dapat diatasi dapat difikirkan cara terbaik untuk menghentikan kehamilan. Tindakan ini perlu utuk seterusnya bahaya eklampsia.
Sebagai pengobatan untuk mencegah timbuya kejang-kejang dapat diberikan: a. Larutan sulfas magnesikus 40% sebanyak 10 ml (4gram), disuntikkan intarmuskulus bokong kiri dan kanan sebagai dosis permulaan dan dapat diulang 4 gram tiap 6 jam menurut keadaan. Tambahan sulfas magnesikus hanya diberikan bila diuresis baik, refleks patella positif, dan kecepatan pernafasan lebih dari 16 er menit. obat tersebut, selain menenangkan juga menurunkan tekanan darah dan meningkatkan diuresis; b. Klorpomazin 50 mg intramuskulus; c. Diazepam20 mg, intramuskulus.
Kadang – kadang keadaan penderita dengan pengobatan tersebut menjadi lebih baik. Akan tetapi umumnya pada preeklampsia berat sesudah bahaya akut berakhir sebaiknya dipertbangkan untuk menghentikan kehamilan oleh karena dalam keadaan demikian harapan bahwa janin hidup terus tidak besardan adanya janin dalam uterus menghambat sembuhnya penderita dari penyakitnya.
C.      Hubungan Pre Eklampsia Berat dengan Tindakan Sectio Caesarea
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut. (Rustam Mochtar, 1998). Pre eklampsia berat  adalah penyakit yang mempuyai dua atau lebih gejala seperti tekanan sistolik Tekanan darah sistolik ³ 160 mmHg, Tekanan darah diastolik ³ 110 mmHg, proteinuria > 5 g dalam 24 jam, Oliguaria < 400 ml/24 jam, keluhan serebral, nyeri epigasrtium, edema paru-paru atau sianosis (Sarwono, 2007). 
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri, sebab terjadinya masih belum jelas. Perlu ditekankan, syndrome preeklampsia dengan hipertensi, oedema dan proteinuria sering tidak diperhatikan oleh wanita bersangkutan sehingga tanpa disadari dalam waktu yang singkat, akan muncul preeklampsia berat bahkan eklampsia (Cunningham, 2005).



Penelitian yang dilakukan Gondo (2006) dengan judul fenomena sosial Sectio caesarea di salah satu Rumah Sakit swasta Surabaya pada 1 Januari 2000 – 31 Desember 2005, yang menggambarkan tingginya angka kejadian Sectio caesarea di Rumah Sakit tersebut, yang diteliti adalah indikasi medis, yaitu preeklampsia, didapatkan sebesar 65,18% dari 3469 pasien dilakukan tindakan Sectio caesarea dari 7062 persalinan yang ada.
Dari penelitian tersebut, preeklampsia merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian Sectio caesarea. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan yang dikemukakan Wibisono (1997), berdasarkan penelitian ini, terdapat ibu yang preeklampsi sebagian (50%) tidak dilakukan tindakan Sectio caesarea. Hal ini disebabkan karena ibu yang preeklampsi tidak memiliki indikasi untuk dilakukannya tindakan Sectio caesarea, sehingga masih dapat ditolong dengan persalinan pervaginam atau persalinan buatan.
Tindakan Sectio Caesarea harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin. Tidak ada refrensi yang menganjurkan langsung sectio caesraea untuk terminasi kehamilan pada preeklampsia kecuali jika ada kontra indikasi persalinan pervaginal. Hal inilah yang dilakukan pada ibu bersalin yang menderita pre eklampsia berat, bila dalam 24 jam persalinan tidak dapat diselesaikan, serviks yang belum matang dengan janin yang masih hidup, serta terdapat tanda-tanda gawat janin dengan DJJ < 100 x/menit atau > 180x/menit (Saiffudin AB, 2002).

D.      Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah :
Ha : Ada hubungan antara kejadian pre eklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea.






BAB III
METODELOGI PENELITIAN

  1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan oleh peneliti menggunakan  jenis penelitian observasional deskriptif  yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan kejadian Pre Eklampsi Berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional dimana data dikumpulkan pada satu waktu tertentu (Notoatmojo, 2005).
Bagan 3.1. Desain Penelitian
SC
 
PEB
 
                                               
 






  1. Variabel Penelitian
Kerangka konsep hubungan kejadian pre eklampsia berat dengan tindakan sectio caearea di ruang mawar RSUD Dr. M. Yunus tahun 2011 dengan bagan sebagai berikut :


Bagan 3.2. Kerangka Konsep
Variabel Independent                                              Variabel Dependent
Pre Eklampsia Berat
 
Sectio Caesarea
 
 


  1. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Cara Uur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1
Sectio caesarea
Tindakan persalinan yang dilakukan secara pembedahan abdominal yang tercatat di buku register
checklist
Melihat Register
SC = 0
Tidak SC = 1
Nominal
2
Pre eklampsi Berat
Hasil diagnosa dokter yang tertera pada register terhadap ibu yang memiliki dua atau lebih gejala-gejala seperti Hipertensi, proteinuria, oedema
checklist
Melihat Register
PEB = 0
Tidak PEB = 1
Nominal




  1. Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Ruang Mawar RSUD M. Yunus pada periode Januari – Desember 2010 berjumlah 1660 orang.
2.      Sampel
Besar sampel yang dibutuhkan peneliti dihitung menggunakan rumus (Notoatmojo 2005) sebagai berikut :
n =
                        Keterangan :
                        n : sampel
N : Populasi
d : Tingkat kepercayaan / ketetapan yang diinginkan (0,05)
Aplikasinya :
n =             
n = 
n =  
n = 322,33 dibulatkan menjadi 323.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan systematic random sampling (Notoatmojo, 2005).
  1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu yang akan dilaksanakan pada 10 Juni hingga 23 Juni 2011.
  1. Teknik Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data
1.      Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data skunder tentang ibu yang mengalami PEB dan tindakan SC yang diperoleh dari register pasien di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus dari bulan Januari – Desember 2010 dengan menggunakan check list.
2.      Pengolahan Data
                   Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah melalui beberapa tahap :
a.       Editing
Merupakan tahap pemilihan data yang telah terkumpul baik cara pengisian dan mengetahui apakah telah sesuai seperti data yag diharapkan atau belum untuk proses lebih lanjut.
b.      Coding
Memberikan kode pada hasil yang diperoleh dari data yang ada, menurut jenisnya, kemudian memberikan kode pada format check list guna mempermudah melakukan analisis terhadap data yang diperoleh.

c.       Tabulating
Memasukkan data-data hasil penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
d.      Entry
Memasukkan data yang sudah diediting dan coding tersebut ke dalam tabel apakah sudah sesuai dengan kode
e.       Cleaning
Kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak.
3.      Analisa Data
Analisa yang dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
a.       Analisa Univariat
Analisa Data Analisa data yang telah dikumpulkan secara kuantitatif dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea dengan menggunakan rumus:
P =   x 100 %
(Arikunto, 2006)
Keterangan:
P=Persentase 
F = Frekuensi
N = Jumlah sampel
Setelah dianalisis, data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi, untuk penentuan kategori, Persentasi diinterpretasikan dengan menggunakan nilai :
1.      0 %                        : Tidak satupun dari responden
2.      1%-25 %    : Sebagian kecil dari responden
3.      26%-49%   : Hampir sebagian kecil dari responden
4.      50%           : Setengah dari responden
5.      51%-75%   : Sebagian besar dari responden
6.      76%-99%   : Hampir seluruh dari responden
7.      100%         : Seluruh dari responden.
(Arikunto, 2006)
b.      Analisa Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (Preeklampsia berat) dengan variabel dependent (sectio caesarea) menggunakan uji statistik Chi-Square (X2) dilakukan dengan program komputerisasi dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 (Budiarto, 2003).
Dengan hasil :
a.       Ha diterima bila  P ≤ 0,05, Artinya : ada hubungan antara ibu bersalin Preeklampsia berat dengan tindakan SC.
b.      H0 ditolak bila P > 0,05, Artinya : tidak ada hubungan antara ibu bersalin Preeklampsia berat dengan tindakan SC.
Untuk desain  cross sectional untuk menghitung angka resiko variable independen dan dependen yang dihitung adalah OR dengan menggunakan tabel 2 x 2 dengan rumus :
OR = AD / BC
                        Keterangan :
OR                  : Odds Ratio
AD                  : Tindakan SC pada ibu bersalin yang menderita PEB serta Tindakan tidak SC pada ibu bersalin yang tidak menderita PEB
BC                   : Tindakan SC pada ibu bersalin yang tidak menderita PEB serta Tindakan tidak SC pada ibu bersalin yang menderita PEB
Hasil dari tabel silang dapat dianalisa perhitungan Odds Ratio sebagai berikut :
OR > 1           : Pre eklampsia berat mempunyai hubungan yang bermakna dengan tindakan SC
OR < 1           : Pre eklampsia berat tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan tindakan SC
OR = 1           : Pre eklampsia berat netral dengan tindakan SC




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Penelitian
1.      Jalannya Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu pada 10 Juni – 23 Juni 2011 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data skunder tentang ibu yang mengalami PEB dan tindakan Sectio Caesarea yang diperoleh dari register pasien di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus dari bulan Januari – Desember 2010 dengan menggunakan check list.
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di ruang mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010 yang berjumlah 1660 dengan besar sampel sebanyak 323 ibu bersalin yang diambil secara systematic random sampling yaitu pengambilan sampel secara sistematik dengan kelipatan 5 dari daftar populasi hingga mencapai 323 ibu bersalin.
Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan diolah melalui tahapan editing, coding, tabulating, entry, cleaning dan analisis hasil penelitian secara univariat dengan distribusi frekuensi dari setiap variabel independent dan variabel dependent serta analisa bivariat yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dan variabel dependent dengan menggunakan program komputerisasi.

2.      Hasil Penelitian
a.      Analisa Univariat
Analisa ini digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi berdasarkan subjek penelitian sebagai  berikut:
Tabel 4.1.Distribusi frekuensi kejadian preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010.
Variabel
Frekuensi
Persentase (%)
Preeklampsi Berat
 Ya
Tidak

59
264

18,3 %
81,7 %
Jumlah
323
100 %
Sectio Caesarea
Ya
Tidak

120
203

37,2 %
62,8 %
Jumlah
323
100 %

Berdasarkan Tabel 4.1. menunjukkan bahwa dari 323 responden hampir seluruh (81,7%) ibu tidak mengalami preklampsia berat dan sebagian besar (62,8%) ibu tidak mengalami pengakhiran kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea.
b.      Analisa Bivariat
 Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (kejadian preeklampsia berat) dengan variabel dependent  (tindakan Sectio Caesarea) dengan menggunakan uji Chi Square (X2) dengan derajat kemaknaan (ρ) sebesar 0,05. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut :




Tabel 4.2    Hubungan kejadian Pre Eklampsia Berat dengan tindakan Sectio Caesarea di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010.
Preeklampsi Berat
Tindakan
Sectio Caesarea
Jumlah
Ρ value
OR
Ya
Tidak
F
%
F
%
F
%
Ya
38
64,4
21
35,6
59
100

0.000


4.016

Tidak
82
31,1
182
68,9
264
100
Jumlah
120
37,2
35,6
62,8
323
100

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 59 ibu bersalin yang Pre Eklampsia berat sebagian besar (64,4%) persalinan dengan tindakan Sectio Caesarea dengan nilai Ρ = 0,000 ((α) < 0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara kejadian Pre Eklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
Nilai OR sebesar 4,016 artinya ibu yang preeklampsia berat mempunyai kemungkinan dilakukan tindakan SC 4,016 kali dibandingkan ibu yang tidak mengalami preeklampsia berat.
B.       Pembahasan
Hasil analisa berdasarkan distribusi frekuensi setiap variabel menunjukkan bahwa hampir seluruh (81,7%) ibu tidak mengalami preeklampsia berat. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Manuaba (1998), banyak penyulit yang menyertai kehamilan selain preeklampsia berat antara lain emesis gravidarum, kram pada kaki, varises, hiperemesis gravidarum, dan hipersalivasi (ptialismus), abortus, prematuritas, ketuban pecah dini, kehamilan ektopik, kelainan tali pusat, perdarahan antepartum, dan kehamilan kembar.
Penelitian ini juga didapatkan sebagian besar (62,8%) ibu tidak mengalami pengakhiran kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea. Hal tersebut sesuai dengan teori Mochtar (1998) yang menyatakan bahwa ada beberapa indikasi medis yang menyebabkan dilakukan pengakhiran kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea, diantaranya yaitu plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, Disproporsi sefalo pelvik, ruptur uteri yang mengancam, partus lama, partus tak maju, distosia serviks, preeklampsia-eklampsia, distosia karena tumor, gawat janin dan malpresentasi janin (letak lintang, letak bokong, presetasi dahi dan muka, presentasi rangkap, gemeli).
Dan juga sesuai dengan penelitian Faizah (2003), yang menyatakan kelainan passenger menjadi alasan dilakukan tindakan Sectio Caesarea, diantaranya bayi terlalu besar, bayi melintang, bayi sungsang, bayi tertekan terlalu lama pada pintu atas anggul, dan janin menderita denyut jantung lemah.
Pada penelitian ini didapat sebagian besar (64,4 %) ibu preeklampsia berat dilakukan pengakhiran kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea. Berdasarkan hasil uji statistik penelitian ini, dapat dijelaskan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dinyatakan oleh Saiffudin AB, (2002), bahwa terdapat beberapa kondisi ibu yang mengalami Pre Eklampsia berat yang memungkinkan dilakukan tindakan Sectio Caesarea, yaitu bila dalam 24 jam persalinan tidak dapat diselesaikan, serviks yang belum matang dengan janin yang masih hidup, serta terdapat tanda-tanda gawat janin dengan DJJ < 100 x/menit atau > 180x/menit yang menyebabkan pengakhiran kehamilan dengan tindakan SC dilakukan pada ibu yang mengalami preeklampsia berat yang bertujuan untuk mencegah terjadinya bahaya eklampsia serta untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin.
Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Gondo (2006) yang menggambarkan tingginya angka kejadian Sectio Caesarea di Rumah Sakit swasta Surabaya, yang diteliti adalah indikasi medis, salah satunya yaitu preeklampsia, didapatkan sebagian besar (65,18 %) dari 3469 pasien dilakukan tindakan Sectio Caesarea dari 7062 persalinan yang ada. Berdasarkan penelitian tersebut, preeklampsia merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian Sectio Caesarea.
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri, sebab terjadinya masih belum jelas. Perlu ditekankan, syndrome preeklampsia dengan hipertensi, oedema dan proteinuria sering tidak diperhatikan oleh wanita bersangkutan sehingga tanpa disadari dalam waktu yang singkat, akan muncul preeklampsia berat bahkan eklampsia (Cunningham, 2005).
Preeklampsia menyebabkan terjadinya perubahan pada plasenta, uterus, ginjal, retina, paru-paru, dan otak, serta gangguan metabolisme air dan elektrolit, yang dapat membahayakan nyawa ibu dan janin, yang mengakibatkan terjadinya gawat janin, perdarahan dalam otak, sehingga diperlukan penanganan yang tepat untuk mengatasinya. Bila keadaan umum ibu dapat diperbaiki, maka direncanakan  untuk mengakhiri kehamilan dengan cara yang aman, dilakukan persalinan pervaginam, tindakan Sectio Caesarea, atau dengan induksi persalinan pervaginam, hal tersebut tergantung dari banyak faktor. Apabila serviks masih lancip dan tertutup, dalam 24 jam persalinan tidak dapat diselesaikan, kepala janin masih tinggi, atau ada persangkaan disproporsi sefalopelvik, sebaiknya dilakukan pengakhiran kehamilan dengan tindakan Sectio Caesarea. Tindakan Sectio Caesarea harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin (Wiknjosastro, 2007). Tidak ada refrensi yang menganjurkan langsung Sectio Caesarea untuk terminasi kehamilan pada preeklampsia kecuali jika ada kontra indikasi persalinan pervaginal.
Hasil penelitian ini juga didapatkan dari 59 ibu bersalin yang pre eklampsia berat hampir sebagian (35,6%) persalinan tidak dilakukan tindakan Sectio Caesarea. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan Wibisono (1997), berdasarkan penelitiannya, terdapat ibu yang preeklampsi sebagian (50%) persalinan tidak dilakukan tindakan Sectio Caesarea. Hal ini disebabkan karena ibu yang preeklampsi tidak memiliki indikasi untuk dilakukannya tindakan Sectio Caesarea, sehingga masih dapat ditolong dengan persalinan pervaginam atau persalinan buatan.
Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Winkjosastro (2007),  bila keadaan umum ibu telah diperbaiki, direncanakan untuk mengakhiri kehamilan dengan cara yang aman, hal tersebut tergantung dari banyak faktor. Jika ibu tidak memiliki faktor-faktor yang mengharuskan ibu dilakukan tindakan SC, maka pengakhiran kehamilan dapat ditolong dengan persalinan pervaginam atau induksi persalinan.
       Hasil penelitian juga didapatkan dari 264 ibu bersalin, hampir sebagian (31,1%) ibu  tidak mengalami preeklampsia berat dilakukan tindakan Sectio Caesarea. Sejalan dengan teori menurut Wiknjosastro (2006), operasi Sectio Caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan Sectio Caesarea, proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal (Dystasia), resiko tersebut antara lain: pada ibu faktor-faktornya, Disproporsi cevalo-pelvik (ketidak seimbangan antar ukuran kepala dan panggul), Disfungsi uterus, Distosia jaringan lunak, Plasenta previa, His lemah / melemah, Rupture uteri mengancam, Primi muda atau tua, partus dengan komplikasi, Preeklampsi dan eklampsi, dan problema plasenta. Sedangkan  pada anak, faktor-faktornya, janin besar, gawat janin, janin dalam posisi sungsang atau melintang, Fetal distress, kelainan letak, dan Hydrocephalus.
Dari beberapa pendapat dan hasil penelitian diatas, sesuai dengan hasil penelitian yang didapat peneliti yang menunjukkan nilai Odds Ratio (OR) = 4,016, artinya  ibu yang preeklampsia berat mempunyai kemungkinan dilakukan tindakan Sectio Caesarea 4,016 kali  dibandingkan ibu yang tidak preeklampsia berat.
       Dengan adanya penelitian ini, diperlukan adanya upaya preventif menegakkan kemungkinan preeklampsia secara dini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas Ante Natal Care. Begitu ditegakkan diagnosis hipertensi dalam kehamilan harus diusahakan agar tidak terjadi preeklampsia ringan, preeklampsia berat dan ekalmpsia atau terjadi komplikasi lainnya.
       Jika preeklampsia berat terjadi pada kehamilan cukup bulan, maka terminasi kehamilan merupakan pengobatan yang paling baik, dan diusahakan lahir pervaginam, tetapi dapat diakhiri dengan tindakan Sectio caesarea atau induksi persalinan jika terdapat faktor-faktor yang  menyebabkan tindakan tersebut harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin juga diperlukan adanya kerja sama yang baik antara tempat pelayanan kesehatan bagian kebidanan dan penyakit kandungan, serta menghindari terjadinya eklampsia melalui pengobatan preeklampsia dengan intensif.






BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data yang telah dilakukan tentang hubungan kejadian Pre Eklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1.      Hampir seluruh ibu bersalin tidak mengalami Pre Eklampsia berat.
2.      Sebagian besar  ibu bersalin dilakukan pengakhiran kehamilan dengan  tindakan Sectio Caesarea.
3.      Ada hubungan yang signifikan antara kejadian Preeklampsia berat dengan tindakan Sectio Caesarea di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010. Dan nilai OR = 4,016 artinya ibu yang preeklampsia berat mempunyai kemungkinan dilakukan tindakan Sectio Caesarea sebesar 4,016 kali dibandingkan ibu yang tidak preeklampsia berat.
B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan di ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, adapun saran yang ingin peneliti berikan  kepada pihak terkait antara lain :


4.      Bagi Akademik
       Diharapkan pihak institusi pendidikan dapat berupaya secara terus menerus memberikan informasi yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang tindakan Sectio Caesarea pada kejadian Pre eklampsia berat yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut bagi mahasiswa dalam pembuatan karya tulis ilmiah (KTI) dan sebagai tambahan referensi di perpustakaan.
5.      Bagi Rumah Sakit
Diharapkan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tolak ukur  bagi petugas pelayanan kesehatan mengenai gambaran kejadian Pre Eklampsi berat dengan tindakan Sectio Caesarea untuk dapat lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan melakukan peningkatan upaya preventif dengan pelayanan pencegahan terjadinya resiko tinggi dan komplikasi kehamilan pada ibu hamil dengan melakukan penatalaksanaan penanganan preeklampsia berat sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditetapkan.
6.      Bagi Peneliti Lain
Kepada peneliti yang meneliti hal-hal yang berkaitan dengan tindakan Sectio Caesarea, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan penelitian selanjutnya dengan mengembangkan variabel penelitian yang lebih menarik dan menggunakan metode penelitian yang berbeda.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar